Hilangnya Dunia Pikir Aktivisme, Kilas Balik Pesan Hannah Arendt

Dengan pemikiran yang matang, gerakan akan menemukan tujuannya. Dan hanya dengan begitu kita bisa benar-benar membawa perubahan yang lebih besar...

Ilustrasi - Film Vita Active: The Spirit Of Hannah Arendt (Prime Video)

Di dunia aktivisme mahasiswa, ada semacam pemahaman yang hampir universal: semakin sibuk seseorang dengan rapat, advokasi, aksi massa, semakin tinggi derajat perjuangannya. Kesibukan menjadi simbol bahwa kita sedang berjuang dengan sungguh-sungguh. Rasanya, jika tidak terus bergerak, maka kita akan terlihat kurang militan, kurang berani, atau bahkan kurang peduli terhadap isu-isu yang ada. Sebuah dorongan kuat muncul untuk terus bergerak, untuk selalu aktif, seolah-olah hanya dengan kesibukan itulah kita bisa membuktikan diri sebagai agen perubahan.

Namun, jika kita berhenti sejenak, dan mencoba melihat fenomena ini melalui perspektif pemikiran seorang filsuf seperti Hannah Arendt, kita bisa mendapatkan wawasan yang sangat penting. Dalam bukunya The Human Condition, Arendt memberikan pandangan tentang labor, work, dan action, yang dalam banyak hal, justru bisa menjadi kritik yang relevan terhadap apa yang tengah terjadi dalam gerakan mahasiswa sekarang ini. 

Bagi Arendt, perbedaan antara ketiganya bukan hanya soal definisi semata, tetapi lebih kepada sebuah pertanyaan penting tentang makna di balik setiap aktivitas manusia, termasuk apa yang kita anggap sebagai “aksi” dalam konteks gerakan sosial. Tanpa pemikiran yang mendalam, sebuah gerakan hanya akan menjadi aktivitas yang kosong dan tak berarah.

Labor, Work, dan Action: Tiga Dunia Aktivitas Manusia

Arendt membagi aktivitas manusia dalam tiga ranah yang sangat berbeda: labor, work, dan action.

Labor, menurut Arendt, adalah aktivitas yang berfokus pada kebutuhan dasar kita untuk bertahan hidup. Ini adalah kegiatan yang sifatnya berulang dan tak ada habisnya: makan, tidur, menjaga kebersihan diri. Hasil dari labor ini selalu bersifat sementara dan akan hilang seiring waktu. Misalnya, kita membersihkan rumah hari ini, besok sudah kotor lagi, atau kita makan untuk mengisi perut, dan kita akan lapar lagi. Labor adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari, tetapi ia tidak menghasilkan sesuatu yang lebih besar atau lebih abadi dari kebutuhan dasar kita.

Work, di sisi lain, adalah aktivitas yang lebih kreatif dan memberi bentuk pada dunia kita. Work menciptakan sesuatu yang bertahan lebih lama, seperti buku yang kita tulis, karya seni yang kita ciptakan, atau struktur pemikiran yang kita bangun. Ini adalah proses yang lebih mendalam, lebih reflektif, dan membutuhkan waktu serta perenungan. Work adalah dunia yang kita bentuk lewat pemikiran dan tindakan yang lebih sadar.

Sedangkan action, menurut Arendt, adalah aktivitas yang terjadi di ruang publik, di mana individu bertindak bersama-sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Action ini bukan hanya soal gerakan fisik, tetapi tentang bagaimana kita mengekspresikan kebebasan kita dan bertanggung jawab atas dunia di sekitar kita. Aksi politik atau sosial terjadi di sini, di ruang publik, di mana kita mengambil peran bersama untuk membuat perubahan.

Namun, seperti yang Arendt tekankan, action yang tidak memiliki dasar pemikiran yang kuat, yang tidak dibangun dari dunia work, pada akhirnya akan kehilangan arah dan makna. Aksi bisa menjadi semacam kebisingan yang tidak membawa perubahan. Tanpa refleksi dan pemikiran yang mendalam, aksi menjadi gerakan yang kosong.

Mengapa Organisasi Mahasiswa Sering Kehilangan Arah?

Di banyak organisasi mahasiswa, kita sering kali melihat bahwa kesibukan dan kegiatan, rapat, event, aksi, menjadi hal yang paling ditekankan. Setiap hari, ada kegiatan yang harus diselesaikan: rapat koordinasi, penyusunan program, persiapan aksi massa, lobi dengan pihak luar, dan sebagainya. Semua itu memang penting, tetapi apakah gerakan kita hanya sebatas itu?

Kampus, yang seharusnya menjadi tempat bagi mahasiswa untuk berpikir kritis, belajar, dan menyusun gagasan besar, sering kali berubah menjadi pabrik event. Fokus kita menjadi lebih pada menyelesaikan tugas administratif, menyiapkan laporan kegiatan, dan mengejar pencapaian yang cepat terlihat. Tapi apakah itu yang kita perjuangkan? Apakah sekadar memenuhi kuota kegiatan atau mendapatkan pujian publik benar-benar cukup?

Seringkali, di tengah kesibukan itu, kita lupa untuk bertanya pada diri sendiri: ”Kenapa kita melakukan ini?” Tanpa pertanyaan dasar itu, gerakan kita berisiko menjadi sekadar rutinitas yang kosong, tanpa tujuan yang jelas. Aktivis yang terus bergerak tanpa berpikir dalam, hanya akan tersesat dalam kegiatan yang tidak berakar pada tujuan yang lebih besar. Gerakan hanya menjadi aksi tanpa refleksi, yang lambat laun kehilangan relevansi dan makna.

Rapat yang Tidak Lagi Mencerdaskan: Kapan Terakhir Kali Kita Berpikir Dalam?

Rapat, yang seharusnya menjadi ruang untuk menggali ide, berdiskusi, dan merumuskan strategi, sering kali berubah menjadi ajang perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa. Alih-alih menciptakan keputusan yang lahir dari pemikiran bersama, rapat sering kali terjebak dalam formalitas, atau bahkan dalam keinginan untuk tampil cepat dan efisien. Akibatnya, keputusan yang diambil tidak didasari oleh analisis mendalam, tetapi oleh dorongan untuk “gerak dulu, pikir belakangan.”

Namun, gerakan yang kuat selalu lahir dari perdebatan panjang, dari ruang yang memungkinkan kita merenung, berdebat, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang isu yang kita perjuangkan. Rapat yang dipenuhi dengan pemikiran dan gagasan yang tajam, adalah rapat yang akan melahirkan aksi yang bermakna. Sebaliknya, rapat yang hanya fokus pada penyelesaian tugas atau agenda yang terburu-buru, akan berakhir dengan keputusan yang tidak mencerminkan tujuan besar gerakan itu sendiri.

Menghidupkan Kembali Dunia Pikir yang Terabaikan

Untuk bisa kembali pada semangat gerakan yang bermakna, kita perlu menghidupkan kembali dunia pikir di dalam organisasi mahasiswa. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengutamakan kajian teori sebelum terjun ke dalam aksi. Riset dan diskusi ideologis yang serius harus menjadi dasar bagi setiap gerakan. Aktivisme yang hanya fokus pada “apa yang harus dilakukan” tanpa memikirkan “mengapa dan bagaimana” kita melakukannya, hanya akan menjadi aksi kosong yang cepat lelah dan mudah dilupakan.

Penting untuk kita ingat bahwa aksi yang besar selalu lahir dari pemikiran yang mendalam, dan pemikiran itu harus dihidupkan melalui diskusi panjang, pembacaan buku, dan refleksi yang tak terburu-buru. Gerakan harus memuliakan ruang kontemplasi, bukan hanya menjadikannya sebagai pelengkap. Gerakan yang sadar akan dirinya sendiri, yang terus merenung dan mempertanyakan, akan lebih kuat dan lebih tahan lama.

Aktivisme yang Tidak Hanya Berani Tampil, Tapi Juga Berani Berpikir

Gerakan mahasiswa bukan hanya soal bergerak cepat, bukan hanya soal menampilkan diri di depan kamera, atau menjadi yang paling aktif. Aktivisme sejati adalah tentang berpikir dengan dalam, tentang menemukan alasan mengapa kita bergerak, dan tentang menjaga akar gerakan kita tetap kuat dan sehat di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini. Seorang aktivis sejati tidak hanya berani turun ke jalan, tetapi juga berani berpikir panjang, berani merenung, dan berani meluangkan waktu untuk benar-benar memahami sebab dari ketidakadilan yang sedang mereka lawan.

Dengan pemikiran yang matang, gerakan akan menemukan tujuannya. Dan hanya dengan begitu kita bisa benar-benar membawa perubahan yang lebih besar, bukan hanya untuk diri kita, tetapi juga untuk masyarakat yang lebih luas.

Posting Komentar

Related Posts

Apa Ada Literasi di Tangerang Selatan?
Baca selengkapnya