Apa Ada Literasi di Tangerang Selatan?

Literasi yang terlalu lama tinggal dalam bentuk simbolik—festival, jargon, laporan dan yang berkelindan di dalamnya itu—berisiko kehilangan daya...

Ilustrasi - Istimewa

Menyontek puisi Sitor Situmorang dengan upaya sedikit modifikasi (asal-asalan), yang bunyinya malam minggu, bulan di atas cipeucang, sengaja saya dramatisi sebagai cara (kanak-kanak) merespons postingan Instagram @dw.nesia, yang menyoal literasi di Tangerang Selatan dan melirik kembali "sesuatu yang usang" di kota Anggrek yang baru remaja itu.

Sebelum jauh-jauh bertele-tele membicarakan yang tidak penting soal literasi itu, secara pragmatis tulisan ini dibuat sebagai upaya mensiasati malam minggu yang gitu-gitu aja di Ciputat yang macet-sesak dan--meminjam asumsi Andi Hidayat--yang tidak pantas untuk ditinggali secara jangka pendek, sedang atau panjang.

Dari siasat malam minggu itulah muncul pertanyaan pertanyaan lugu-bodoh: literasi itu apa sih? Kok di dalam seremonial yang berwajah festival, literasi hanya berkaitan dengan lomba menulis puisi, cerpen (kadang-kadang novel, naskah drama, dan yang berkaitan dengan itu) melagukan puisi (musikalisasi puisi, red), deklamasi puisi, dan sejenis-setebuh dengan itu? Apakah literasi hanya memiliki wajah-wajah semacam itu—festival, perpustakaan jalanan, perpustakaan yang dikelola negara, atau kanal diskusi kolektif? Mengapa literasi harus selalu berurusan dengan hal-hal tersebut? Saya hanya ingin memastikan apakah literasi memang sebatas urusan baca-tulis, sebagaimana sering diklaim banyak pihak yang terkesan “terpelajar”.

Syahdan. Kembali pada unggahan media Jerman tersebut, perbincangan bermula dari video Instagram @dw.nesia tentang Lapak Baca Pamulang, sebuah perpustakaan jalanan gratis yang hadir setiap Sabtu sore hingga malam di Alun-alun Pamulang. Video itu menampilkan sekelumit aktivitas membaca di ruang publik yang kemudian dikaitkan dengan upaya menumbuhkan literasi di Kota Tangerang Selatan. Potret praktik kecil tersebut bagi sebagian orang terasa segar, namun bagi sebagian lain justru memunculkan kegelisahan.

Dalam video tersebut, Raihan—pemilik lapak baca—mengatakan ingin berbagi sesuatu dengan kampung halamannya: Tangerang Selatan.

"Yang paling penting bagi gua di alun alun (alun-alun Pamulang, red) ngomongin keresahan kita. Pamulang itu butuh apa sih? Tangsel itu butuh apa? Soal baca itu bisa dibentuk,"  kata Raihan, pemilik Lapak Baca Pamulang, sebagaimana dikutip dari video Instagram @dw.nesia, Sabtu (3/1/2026).

Sebagai sarjana sejarah muda, Raihan berharap tumbuhnya budaya membaca melalui langkah kecil: berbagi buku dan membuka ruang percakapan di malam Sabtu.

"Saya membuka lapak baca untuk memenuhi interaksi dengan teman-teman Pamulang, dan memenuhi buku gua buat bisa dibaca orang lain. Ada yang asing aja, terus jadi temen gara gara kita sering ngobrol ngomongin buku dan ngomongin banyak hal di alun-alun. Akhirnya gua baru tahu di Pamulang jalanannya masih jelek, masih ada kasus kerancuan Makan Bergizi Gratis (MBG), masih sering tawuran pelajarnya, dan lain sebagainya," ujar Dia.

Apa yang dilakukan Raihan, sebagaimana terjelaskan dalam video tersebut, tampak, setidaknya berupaya, mengharapkan tular energi positif di tengah hiruk-pikuk Alun-alun Pamulang—ruang publik yang lekat dengan urban dan, keyakinan saya, macet-sesak itu.

Selain itu, dari obrolan itu, Raihan mengaku justru menemukan banyak hal yang selama ini luput dari perhatiannya: jalan rusak, kebijakan sosial yang rancu, hingga tawuran pelajar. Lapak baca, dalam hal ini, bukan tujuan akhir, melainkan medium untuk membuka percakapan.

Namun pernyataan tentang “minimnya akses baca” di Tangerang Selatan itulah yang kemudian memantik reaksi keras.

Di kolom komentar unggahan @dw.nesia, muncul sejumlah respons bernada defensif, (mungkin) bahkan sinis. Salah satunya datang dari akun Instagram @beni_satria_, yang menyebut dirinya telah lama terlibat dalam persoalan literasi di Tangerang Selatan.

"Lu baru pulang dari semarang ke tangsel satu tahun seolah lu udah tahu skena literasi tangsel sejak lama. Para komunitas literasi di tangsel itu sudah bekerja dengan govermen itu dari 2017. Yang melahirian festivalliterasitangsel, kolaborasi lintas disiplin untuk anak muda dan literasi anak. Untuk perpustakaan sudah banyak yang kerjasama dengan pemerintah kota ada taman baca peka, kolong, dan kandang jurank doank, dan ada dinas perpustakaan daerah dan semua itu gampang di akses. Kalo lu baru 6 bulan disini gak usah ngebacot pemerinta butuh apa untuk literasi di tangsel," kata Akun Instagram @beni_satria_ dalam komentar pada postingan @dw.nesia, ditulis Sabtu (3/1/2025).

Komentar lain, dengan nada serupa, menyusul:

"anak anak literasi yg Laen udah kering... Lo baru basah dikit, udah berasa si paling literasi Tangsel... Mau ketawa,"  komentar Akun Instagram @hellrmdhn dalam dalam postingan @dw.nesia, ditulis Sabtu (3/1/2025).

Nada komentar tersebut jelas keras. Namun jika dibaca lebih pelan, kemarahan itu tidak muncul di ruang hampa. Ia bisa dibaca sebagai ekspresi kekecewaan atas sorotan media yang menampilkan inisiatif baru, sementara kerja jangka panjang yang kurang fotogenik merasa terabaikan. Raihan sendiri menanggapi dengan singkat dan tampak ragu:

"terus saya harus apa kalau diwawancarai lagi? diem aja kali ya atau oper ke abang biar abang sama...," jawab Raihan kepada akun Instagram @beni_satria_.

Akun Instagram @beni_satria_ kemudian kembali membalas dan menegaskan posisinya.

"asal tahu ya teman teman kilomunitas sastra di tangsel itu harmonis, banyak melahirkan festival," jawab akun Instagram @beni_satria_

Percakapan itu lalu berakhir tanpa resolusi, tetapi menyisakan sesuatu, setidaknya bagi saya, yang jauh lebih menarik daripada sekadar adu komentar: pertarungan tentang siapa yang berhak mendefinisikan literasi.

Berdasarkan hal di atas, saya mencoba menghubungi Raihan untuk meminta kejelasan terkait apa dan bagaimana maksud-tujuan membuka lapak baca tersebut sehingga bisa muncul komentar dengan, mungkin, bernada sensitif.

"Sejujurnyaa, inisiatif buka lapak baca tuh karena gua punya buku banyak aja sih. kedua, gua pengen tau kabar sama kondisi tangsel yang selama kuliah gua ga terlalu in sama isu-isu lokalnya," kata Raihan.

Ia menduga reaksi keras itu berkaitan dengan sorotan media.

“Dugaan gua mereka punya beban moral karena selama ini banyak kerja sama bareng pemkot buat bagusin citra literasi di Tangsel, tapi yang lagi dapet spotlight malah gua serta kritik gua terhadap literasi Tangsel,” tambahnya..

Pernyataan ini penting bukan karena benar atau salah, tetapi karena membuka dimensi lain, setidaknya bagi saya, yakni literasi sebagai representasi politik. Ketika literasi dibiayai, diprogramkan, dan dijadikan indikator keberhasilan kota, ia tak lagi netral. Ia menjadi bagian dari citra.

Dalam konteks ini, kritik dari luar—meski kecil—bisa terasa mengganggu narasi yang sudah mapan.

Lapak Baca Pamulang melalui Instagram @dw.nesia mungkin memang langkah kecil, sebagaimana dikatakan Raihan. Namun reaksi keras yang muncul menunjukkan bahwa literasi di Tangerang Selatan bukan sekadar soal membaca, melainkan soal siapa yang merasa diwakili, diakui, dan dilihat. Di titik ini, konflik yang terjadi barangkali lebih penting daripada siapa yang benar. ENTAH.

Melihat komentar dan pernyataan Raihan, saya bingung tak karuan. Literasi yang, saya kira, konon sekadar baca-tulis dan tidak kaitannya dengan hal-hal lainnya itu, ternyata menimbulkan "sesuatu" yang bisa dibicarakan lebih komprehensif-kompleks. Ternyata literasi juga berhubungan dengan, meminjam kata akun Instagram @beni_satria_, pemerintah sebagai satu kesatuan yang utuh-padu. Apakah literasi ada hubungannya dengan politik, maksudnya dengan pemerintah (saya sebut politik karena, hemat saya, pemerintah dan politik sama saja, red)? Kalau ada, berarti ada beban uang yang dipakai untuk menjalankan literasi itu dong? Sebenarnya literasi apa sih, kok sampe berhubungan dengan pemerintahan? Katanya literasi soal baca-tulis belaka, kok sampe sastra dan komunitas sejenis kesenian-budaya dibicarakan? Kalau soal baca-tulis, harusnya literasi sudah "menjadi" sesuatu yang lengket sebab dari sekolah dasar kita, setidaknya saya, sudah mendapatkan itu. Namun, kalau membicarakan sastra, standardisasi yang telah disepakati untuk "menjadi literasi" sastra yang semacam-berbentuk apa? Bukankah sastra hanya sesuatu yang tidak penting sebagaimana yang ditampilkan pada kenyataan hari ini, setidaknya sebagaimana liputan kompas kala itu yang menerangkan "nasib sastrawan"? Kalau sastra penting, mengapa orang-orang justru tidak pernah tertarik untuk mempelajari sastra? Jadi literasi itu yang bagaimana sih? Ah, saya gak ngerti kenapa literasi serumit itu, padahal saya kira sekadar baca-tulis belaka. Jadi, literasi yang seperti apa sih yang perlu dibicarakan lebih jauh dan ribet semacam itu? Apakah literasi yang di luar dari pemahaman lugu-bodoh saya? Apa dan bagaimana literasi?

Literasi—yang oleh Raihan diklaim dapat tumbuh dari upaya-upaya kecil lewat lapak baca di Alun-Alun Pamulang, dan oleh pihak lain diakui telah lama bersemi di Tangerang Selatan—justru membuat saya ingin bertanya langsung pada orang-orang yang kebetulan saya temui. Secara sengaja juga saya menghindari asumsi-asumsi teoretik ala para penulis besar literasi, yang kerap terdengar indah-gagah namun terlalu jauh dari trotoar. Ini semata upaya menepis keraguan diri sendiri: benarkah literasi itu ada di Tangerang Selatan, ataukah ia hanya rajin disebut-sebut agar terdengar hidup, meski sesungguhnya lebih sering hadir sebagai klaim daripada kenyataan.

Sebagaimana puisi W.S Rendra--mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan nyata--saya mulai menyusuri jalan Pondok Aren. Secara acak, Panji, warga pondok aren yang juga mengaku sebagai mahasiswa Universitas Terbuka, menyebut literasi sesuatu yang berurusan dengan baca-tulis.

"Saya gatau banyak soal itu (literasi, red), Bang. Soal literasi saya kira orang bisa baca dan mampu menuliskan apa yang dia baca," ujarnya di sekitar kawasan kelurahan Perigi, Sabtu (3/1/2026).

Ia mengaku tidak mengetahui Lapak Baca Pamulang dan Komunitas Literasi yang ada di Tangerang Selatan.

"Soal yang abang kasih vidionya, saya baru tahu. Nah kalau komunitas macam itu saya belum tahu, Bang. Mungkin ada, tetapi selama saya hidup di sini (Kelurahan Perigi, red) saya tahunya kalau literasi versi komunitas itu ya cuman nampilin kesenian aja, kayak penampilan silat, ondel-ondel atau band gitu, dan itu juga kayakny gak sampe besar. Saya tahunya itu berhubungan sama literasi karena pembawa acaranya ngomong budaya literasi betawi gitu. Gatau bener atau nggak, sejauh ini itu aja bang," tuturnya.

Literasi, kata Panji, mungkin ada di Tangerang Selatan, tetapi hanya sebagian saja yang bisa dan mau mengakses hal tersebut.

"Saya kira literasi itu ada bang. Ya, tetapi akses dan yang mau itu belum terpenuhi. Apalagi kan, jargon kota Tangsel itu cerdas, modern dan religius, ya pasti literasi itu ada. Kampus-kampus juga banyak di sini (Tangsel, red) bang. Sekolah-sekolah juga banyak. Ya, untuk jawab ada atau tidaknya, saya kira itu ada, tetapi akses dan kemauannya belum ada," pungkasnya.

Selain itu, Maulana, warga kelurahan Serua Indah, Kecamatan Ciputat, menyebut literasi itu hanya persoalan membaca dan menulis.

"Saya kira literasi itu membaca dan menulis. Nah, selebihnya cuman mengolah hasil bacaan dan menulis aja," kata dia saat diwawancaraio di Kelurahan Jombang, Sabtu (3/1/2025).

Ia mengaku literasi di Tangerang Selatan belum sepenuhnya terlaksana dan baginya literasi itu urusan pribadi bukan komunitas semacamnya.

"Kalau literasi di Tangerang Selatan kayaknya sih belum sepenuhnya terlaksana. Memang pernah ada festival ada diskusi lomba nulis puisi tahun 2017an, tetapi festival itu gak berjalan terus, setahu saya 2023 itu terakhir festival kayak gitu. Nah, kalau gitu, berarti memang belum terlaksana secara penuh literasi di Tangsel. Andai terpenuhi saya kira hanya untuk beberapa orang yang mendapat akses dan punya keinginan dengan hal literasi. Maka, kalau bicara literasi saya kira itu urusannya pribadi dulu. Apa yang disampaikan Lapak Baca Pamulang itu sudah baik, karena dia mengambil sisi lain di tengah keseharian di Alun-Alun Pamulang, tetapi tetap saja itu belum dan hemat saya gabisa menjadi sesuatu yang beridentitas Tangerang Selatan," tutur Maulana.

Lebih lanjut, Ayu, mahasiswa sastra yang menolak memberikan nama kampusnya, menyebut literasi lebih luas dari sekadar baca-tulis, meski ia menilai praktiknya di Tangerang Selatan masih terbatas pada ruang formal tertentu.

"Ya, kalau dari sudut pandang saya, literasi bukan cuma bisa baca dan nulis, tapi juga bisa memahami, mengkritisi, dan mengolah teks apa saja,” ujar Ayu saat ditemui di kawasan Ciputat, Sabtu (3/1/2026).

Namun, lanjut Ayu, literasi di Tangerang Selatan belum menjadi gerakan yang menyentuh masyarakat luas.

“Di kampus sih ada diskusi, bedah buku, atau pementasan sastra, tapi orang-orangnya itu-itu lagi. Nah di luar kampus, literasi kayaknya belum jadi kebutuhan sehari-hari deh. Jadi, literasi masih elitis dan belum membumi,” katanya.

Sementara itu, Arya, siswa Sekolah Menegah Atas (yang enggan disebutkan nama sekolahnya), mengaku literasi di sekolah lebih banyak dipahami sebagai kewajiban pelajaran.

"Kata guru dan yang gua alami cuman merangkum aja sebagai tugas, Bang," ujar Arya saat ditemui di sekitar kawasan Ciputat, Sabtu (3/1/2026).

Ia mengatakan kegiatan literasi jarang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

“Jarang ada ruang buat diskusi bebas atau nulis apa yang kita rasakan. Ya mungkin kalau dikemas lebih santai, anak-anak bisa tertarik. Selama ini literasi terasa formal dan kaku. Nah anak-anak itu kan sukanya yang gak formal dan kaku," katanya.

Arya mengatakan baru mengetahui adanya komunitas literasi di Tangerang Selatan dari media sosial.

“Kalau komunitas baca di luar sekolah saya nggak tahu. Apalagi yang terkini soal Lapak Baca atau komunitas literasi di Tangsel. ” tuturnya.

Dari percakapan dengan beberapa narasumber acak di atas, tampak jelas adanya jarak antara literasi sebagai klaim institusional dan literasi sebagai pengalaman warga yang melahirkan sedikit kesimpulan saya: Kalau begitu literasi di Tangsel itu memang ada, tetapi kadang-kadang tidak ada. Maksudnya, ia ada sebagai sesuatu yang lain dan ia tidak ada sebagai sesuatu yang lain. Entahlah.

Sebagai upaya menyelesaikan tulisan iseng ini, pertanyaan “ada atau tidak literasi di Tangerang Selatan” barangkali sejak awal sudah salah alamat. Karena literasi, jika dipahami bukan sekadar sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan sebagai praktik sosial—sesuatu yang hidup dalam relasi, ruang, dan kebiasaan—tidak pernah hadir atau absen secara mutlak. Ia selalu bergerak, berlapis, bahkan diperebutkan maknanya.

Di kota Anggrek, literasi tampaknya bekerja sebagai bahasa resmi: tercatat dalam program, dipanggungkan dalam festival, dan dijaga oleh komunitas yang merasa telah lama mengurusnya. Namun di saat yang sama, ia belum sepenuhnya menjadi bahasa sehari hari warga, atau belum menjelma sebagai pengalaman yang dirasakan, diakses, dan dianggap perlu oleh mereka yang hidup di luar lingkaran kebijakan dan komunitas. Maka, jarak inilah yang membuat literasi mudah diklaim, tetapi sulit dihayati, dan bagi saya itu terlalu abu-abu.

Fenomena Lapak Baca Pamulang dalam kerangka itu, bukanlah jawaban, melainkan gejala. Ia memperlihatkan bahwa literasi bisa tumbuh bukan dari perencanaan besar, melainkan dari pertemuan kecil: orang-orang yang duduk, membuka buku, berbincang, dan perlahan membaca kota mereka sendiri, meskipun tidak menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Reaksi keras terhadap praktik kecil ini menandai dugaan bahwa literasi di Tangerang Selatan (seolah) tidak netral, dan telah menjadi medan kuasa atas siapa yang berhak berbicara atas nama literasi, dan pengalaman siapa yang diakui sebagai sah.

Literasi yang terlalu lama tinggal dalam bentuk simbolik—festival, jargon, laporan dan yang berkelindan di dalamnya itu—berisiko kehilangan daya transformatifnya. Ia menjadi sesuatu yang dimiliki, bukan dialami. Maksudnya, sesuatu yang dijaga, bukan dipertanyakan. Padahal, literasi yang hidup justru lahir dari ketegangan, dari perbedaan pengalaman, dan dari keberanian untuk membaca kenyataan tanpa harus segera membenarkannya

Di titik ini, konflik--jika layak disebut konflik--komentar dalam Instagram @dw.nesia ihwal Lapak Baca Pamulang dan para pengklaim literasi lama (seharusnya) tidak perlu segera diselesaikan. Ia justru penting untuk dibiarkan terbuka, sebagai ruang refleksi bersama (jika memang perlu): tentang siapa yang terlibat, siapa yang terlewat, dan siapa yang selama ini hanya menjadi objek dari bahasa literasi yang tidak ia ciptakan sendiri, dan wacana lainnya yang sekiranya bermutu-layak untuk dibicarakan di antara hal demikian.

Di alun-alun, buku-buku dibuka lalu ditutup kembali dan percakapan singgah lalu pergi tanpa pamit. Sebagian orang merayakan Sabtu malam sebagaimana “orang Tangsel” merayakannya: dalam macet yang khusyuk, panas yang lengket, dan sumpek yang terasa seperti identitas kota.

Hidup berjalan seperti biasa melewati keresahan yang tak pernah selesai, harapan baru tahun 2026 yang terasa terlalu dini, bau sampah yang menyergap di beberapa ruas jalan akibat ditutupnya Cipeucang, dan panggung perayaan pemenang Dangdut Academy yang dirayakan pemerintah kota dengan gegap-gempita. Perayaan itu, entah disengaja atau tidak, menenggelamkan ribut-ribut literasi Lapak Baca Pamulang, menutup bau sampah dengan suara pengeras yang lebih nyaring, dan menutup banyak hal yang penting bagi kelangsungan hidup di Tangerang Selatan!

Di antara semua itu, kebingungan saya terjaga. Saya belum juga berhasil meyakinkan diri bahwa literasi benar-benar ada di Tangerang Selatan—selain sebagai jargon, laporan, dan baliho kegiatan atau beberapa hal yang terlanjur menjelma tubuh-bentuknya sebagaimana hari ini. Kebingungan ini bercampur dengan luapan hati pengangguran yang berkeliaran di sepanjang jalan Pamulang, Serpong dan Tangerang Selatan pada umumnya, pedagang kaki lima yang berharap kaya dari anugerah seadanya, kampus-kampus yang sepi mahasiswa karena liburan, sekolah-sekolah yang sunyi karena kalender akademik, dan segala baik-buruk kehidupan yang berjalan tanpa perlu persetujuan siapa pun.

Sebagaimana Sajak Sebatang Lisong: Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelindan—barangkali sederhana, namun justru melelahkan—dan akhirnya mengerucut pada satu soal yang tampak remeh tapi ganjil: apa ada literasi di Tangerang Selatan? Astaga! Baiknya kita tanyakan saja pada lapak baca, pada komunitas, pada mereka yang setia berkubang di gelanggang itu sambil pura-pura sibuk, dan sesekali membuka buku agar malam tidak sepenuhnya sia-sia, pada warga lainnya yang diam diam lebih dulu berkegiatan tetapi terlalu asyik bernaung di dalam kesunyian, kepada penguasa yang berkewajiban memanifestasikan cerdas, modern dan religius dan sebagaimana alinia keempat awal Undang Undang 1945 itu, atau kepada—meminjam lirik Ebiet G. Ade—rumput yang bergoyang.

Hemat kata, bulan masih menggantung di Tangerang Selatan dan malam minggu selalu saja terlanjur sebagai sesuatu yang hanya begitu hingga waktu tak segan menelan semua kesepian, kesibukan, kebenaran, kebohongan, kebodohan dan semua-segalanya di TANGERANG SELATAN itu. Al-haqqu mir robbika. Tabik.

Daftra Bacaan

W. S Rendra. Potret Pembangunan Dalam Puisi. Pustaka Jaya.

Andi Hidayat. 2024. Tangerang Selatan dan Jakarta Sama Aja, Sama-sama Baiknya Ditinggalkan. https://mojok.co/terminal/tangerang-selatan-dan-jakarta-sama-aja-sama-sama-baiknya-ditinggalkan/amp/ (diakses 3 Januari 2026)

Marina. E. 2025. Nasib Sastrawan: Manis Melipur Masa, Pahit di Dunia Nyata. Kompas.

Posting Komentar

Related Posts

Apa Ada Literasi di Tangerang Selatan?
Baca selengkapnya