Berhenti Seolah Kuat Sendirian, Perasaan Tidak Pernah Bisa Dihapus, Hanya Diabaikan atau Dipahami

Perasaan tidak bisa dihapus.

Ia bukan kesalahan sistem yang bisa diperbaiki dengan niat baik atau kalimat motivasi. Ia adalah bagian dari cara manusia bertahan hidup. Namun di dunia yang menuntut kita selalu baik-baik saja, perasaan justru sering diperlakukan sebagai gangguan, sesuatu yang harus segera disingkirkan agar roda produktivitas terus berputar.

Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan ketahanan, tapi alergi pada kerentanan. Sedih dianggap tanda lemah. Marah dicap tidak dewasa. Cemas dilabeli overthinking. Seolah-olah manusia ideal adalah manusia yang emosinya steril, rapi, dan tidak merepotkan lingkungan. Akibatnya, banyak orang belajar menekan perasaan sejak dini, bukan memahaminya. Kita diajari cara bertahan, tapi tidak pernah benar-benar diajari cara merasa.

Sigmund Freud (image: IDN Times) 

Padahal perasaan selalu datang dengan alasan. Ia tidak muncul dari kehampaan. Kesedihan sering lahir dari kehilangan yang tidak diberi ruang untuk diratapi. Kecemasan tumbuh dari ketidakpastian hidup yang nyata, tentang pekerjaan, masa depan, dan rasa aman yang rapuh. Kemarahan kerap menjadi sinyal bahwa ada batas yang dilanggar, ada ketidakadilan yang terlalu lama ditoleransi. Ketika perasaan ini ditekan, ia tidak menghilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi lelah kronis, sinisme, mati rasa, atau kebencian pada diri sendiri.

Masalahnya, kita terbiasa mengira menenangkan perasaan berarti menyingkirkannya. Kita ingin cepat selesai. Cepat pulih. Cepat kembali normal. Maka lahirlah berbagai solusi instan yang menjanjikan ketenangan tanpa proses, afirmasi singkat, nasihat simplistik, atau tuntutan untuk “lebih bersyukur”. Bukan berarti semua itu salah, tetapi sering kali ia bekerja seperti plester pada luka dalam. Menutup permukaan, tanpa menyentuh sumber nyeri.

Memahami perasaan adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit. Ia menuntut kejujuran. Ia memaksa kita bertanya hal-hal yang tidak nyaman, dari mana rasa ini berasal? Apa yang sebenarnya hilang? Apa yang selama ini kutahan agar terlihat baik-baik saja? Dalam proses ini, kita bisa menemukan bahwa banyak perasaan tidak sepenuhnya bersifat personal. Ia lahir dari konteks sosial, tekanan ekonomi, relasi kerja yang timpang, ekspektasi keluarga, atau sistem yang terus menuntut tanpa memberi jaminan.

Di titik ini, banyak orang merasa bersalah. Karena kita dibesarkan dengan narasi bahwa semua emosi negatif adalah kegagalan individu. Jika sedih, berarti kurang bersyukur. Jika cemas, berarti kurang kuat. Padahal tidak semua penderitaan bisa diselesaikan di level personal. Ada perasaan yang merupakan respons sehat terhadap kondisi yang memang tidak sehat.

Menenangkan perasaan, dalam arti yang lebih jujur, bukan berarti memaksanya pergi. Ia berarti memberi ruang agar perasaan itu selesai bicara. Kadang menenangkan berarti mengakui bahwa hidup memang sedang berat. Kadang berarti berhenti menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang berada di luar kendali. Kadang berarti menerima bahwa tidak semua luka harus “disembuhkan” segera, sebagian hanya perlu ditemani.

Kedewasaan emosional bukan diukur dari seberapa cepat kita bangkit, tetapi dari seberapa berani kita hadir pada diri sendiri tanpa topeng. Dari kemampuan untuk duduk bersama perasaan tanpa panik, tanpa terburu-buru mencari jalan keluar. Dalam kehadiran itulah perasaan perlahan melembut. Bukan karena ia dihapus, tetapi karena ia akhirnya didengar.

Perasaan yang dipahami jarang menghancurkan. Yang menghancurkan adalah perasaan yang diabaikan terlalu lama. Maka mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak tips untuk “menghilangkan” emosi, melainkan keberanian kolektif untuk mengakui satu hal sederhana, merasa adalah bagian dari menjadi manusia. Dan ketenangan tidak pernah lahir dari penyangkalan, melainkan dari pemahaman yang sabar.


Referensi,

1. Freud, S. (1917). Mourning and Melancholia. Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud.

2. Gross, J. J. (1998). The Emerging Field of Emotion Regulation, An Integrative Review. Review of General Psychology.

3. Ahmed, S. (2014). The Cultural Politics of Emotion. Edinburgh University Press.


Posting Komentar

Related Posts

Apa Ada Literasi di Tangerang Selatan?
Baca selengkapnya