Cinta tidak perlu dirayakan berlebihan untuk tetap ada. Ia juga tidak perlu dibenci agar kehilangan kuasanya. Yang sering luput kita sadari justru satu hal yang lebih mendasar: cinta menjadi problematik bukan karena ia hadir, melainkan karena ia ditempatkan terlalu tinggi dalam struktur makna hidup manusia.
Dalam banyak narasi populer, dari sastra, agama, hingga psikologi populer, cinta kerap diposisikan sebagai sumber kehidupan. Ia digambarkan sebagai energi utama yang membuat manusia bertahan, alasan terdalam untuk berjuang, bahkan pembenaran atas pengorbanan diri yang ekstrem. Di titik ini, cinta tidak lagi berfungsi sebagai relasi antar subjek, melainkan berubah menjadi pusat ontologis: tempat manusia menggantungkan arti dirinya sendiri.
Masalahnya bukan pada cinta, tetapi pada absolutisasi cinta.
Ketika cinta dijadikan poros utama, hidup menjadi rapuh secara struktural. Seluruh makna digantungkan pada sesuatu yang secara inheren tidak stabil: kehendak, perasaan, dan keberlanjutan orang lain. Tidak ada relasi yang kebal terhadap perubahan waktu, konflik, atau keterbatasan manusia. Maka ketika cinta dijadikan fondasi hidup, kehilangan bukan lagi peristiwa emosional, melainkan krisis eksistensial.
Menurunkan cinta dari level “sumber hidup” ke “teman perjalanan” bukan tindakan sinis, melainkan koreksi filosofis. Ia adalah upaya menata ulang hierarki makna. Dalam struktur ini, hidup tidak lagi disandarkan pada relasi, tetapi pada tanggung jawab personal: kerja, penciptaan, pemikiran, dan keterlibatan dengan dunia yang lebih luas daripada pasangan romantis.
Dalam kerangka eksistensialisme, manusia tidak menemukan makna, melainkan membangunnya melalui tindakan sadar. Ketika makna hidup diserahkan sepenuhnya kepada cinta, manusia justru melepaskan tanggung jawab eksistensialnya sendiri. Ia hidup secara derivatif, maknanya bergantung pada keberadaan orang lain. Ini bukan bentuk cinta yang dalam, melainkan bentuk penghindaran dari kecemasan eksistensial.
Cinta, dalam posisi yang lebih rasional, tidak berfungsi sebagai penyelamat. Ia tidak diminta menambal kehampaan, menyembuhkan luka identitas, atau memberi legitimasi atas keberadaan seseorang. Fungsi-fungsi itu terlalu berat untuk dibebankan pada satu relasi. Ketika itu terjadi, relasi berubah menjadi arena tuntutan, bukan perjumpaan.
Maka ketika cinta datang dalam struktur makna yang telah stabil, ia tidak menimbulkan kepanikan. Tidak ada kebutuhan untuk segera mengamankan, mendefinisikan, atau mengikatnya menjadi pusat segalanya. Ia hadir sebagai tambahan, bukan fondasi. Sebagai kemungkinan, bukan syarat hidup.
Sebaliknya, ketika cinta pergi, hidup tidak berhenti. Kesedihan tetap nyata, karena kehilangan tetap kehilangan, tetapi tidak bersifat destruktif. Individu tetap memiliki orientasi hidup yang tidak runtuh bersamaan dengan relasi. Kerja intelektual berlanjut, praktik kreatif tetap berjalan, dan relasi sosial lain tidak ikut mengering. Ini bukan ketahanan emosional yang dingin, melainkan ketahanan struktural.
Dalam perspektif psikologi kritis, posisi ini mencerminkan pergeseran dari relasi yang berpusat pada kebutuhan afektif menuju relasi antar subjek yang otonom. Cinta tidak lagi menjadi alat regulasi emosi utama, melainkan salah satu ruang afeksi di antara banyak ruang lain. Individu tidak meniadakan rasa, tetapi tidak membiarkan rasa mendikte seluruh orientasi hidup.
Menurunkan cinta dari singgasana juga berarti membebaskannya dari beban ideologis. Cinta tidak lagi diminta “menyelamatkan”, “melengkapi”, atau “menebus” kehidupan yang timpang. Ia dibiarkan menjadi apa adanya: relasi yang terbatas, rapuh, dan sementara, namun tetap bernilai.
Di titik ini, cinta justru menjadi lebih etis. Karena ia tidak menuntut penghapusan diri. Tidak memaksa pengorbanan yang melampaui batas. Tidak mengharuskan seseorang mengerdilkan ambisi, pemikiran, atau karya demi menjaga relasi tetap utuh. Cinta tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti tumbuh.
Perpindahan poros ini sering disalahpahami sebagai kehilangan romantisisme. Padahal yang terjadi adalah pergeseran dari romantisisme menuju kedewasaan eksistensial. Hidup tidak lagi dikelola berdasarkan intensitas emosi, tetapi berdasarkan keberlanjutan makna.
Dalam struktur ini, cinta tetap penting, tetapi tidak menentukan segalanya. Ia berjalan bersama hidup, bukan di depan hidup. Ia menemani, bukan memimpin. Dan justru dengan posisi inilah, manusia berhenti menakutkan kehilangan, karena hidupnya tidak lagi berdiri di atas satu kemungkinan yang bisa runtuh kapan saja.
Referensi:
1. Fromm, E. (1956). The Art of Loving. Harper & Row.
2. Sartre, J.-P. (1946). Existentialism Is a Humanism. Yale University Press.
3. Bauman, Z. (2003). Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds. Polity Press.