Jika Ingatan Bisa Dipindahkan, Apakah Kita Masih Manusia?

Manusia sering merasa aman dengan tubuhnya. Selama jantung berdetak, paru-paru bekerja, dan wajah masih bisa dikenali di cermin, kita percaya diri mengatakan: aku masih ada. Namun keyakinan itu rapuh. Ia runtuh bukan ketika tubuh rusak, melainkan ketika ingatan mulai hilang. Saat seseorang lupa nama anaknya sendiri, lupa rasa cintanya, lupa alasan ia pernah hidup dengan penuh keyakinan, di situlah pertanyaan tentang kemanusiaan muncul secara telanjang.

Kehidupan setelah Kematian melalui transfer memori dalam film Robocop (image: liputan6) 

Masalahnya bukan kematian, melainkan kehilangan memori.

Ingatan bukan sekadar fungsi otak. Ia adalah struktur yang menyatukan pengalaman menjadi identitas. Kita bukan hanya apa yang kita lakukan hari ini, melainkan akumulasi dari apa yang pernah kita alami, pahami, dan tafsirkan. Tanpa memori, tubuh tetap bergerak, tetapi “aku” menguap. Maka wajar jika dalam banyak narasi, baik ilmiah maupun fiksi, manusia perlahan dipahami bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai kumpulan ingatan yang terorganisir.

Representasi paling populer dari gagasan ini bisa ditemukan dalam film Robocop. Tubuh protagonis telah sepenuhnya menjadi mesin. Yang tersisa dari kemanusiaannya bukan darah atau daging, melainkan fragmen memori: potongan wajah keluarga, kilatan rasa bersalah, dan jejak trauma yang menolak dihapus. Mesin itu bukan mengganggu karena ia kuat, tetapi karena ia mengingat. Di titik ini, kemanusiaan tidak lagi melekat pada tubuh biologis, melainkan pada residu memori yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Namun problem sebenarnya muncul ketika ingatan tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang rapuh dan personal, melainkan sebagai entitas yang bisa dipindahkan.

Riset-riset kontemporer tentang penyimpanan memori, baik melalui media digital, sistem biologis lain, maupun eksperimen transfer informasi ke benda non-manusia, menggeser batas lama antara subjek dan objek. Ingatan tidak lagi sepenuhnya terikat pada tubuh asalnya. Ia mulai diperlakukan sebagai data eksistensial: sesuatu yang bisa disimpan, direplikasi, bahkan diwariskan.

Di sinilah perdebatan argumen yang terasa filosofis menjadi tajam. Jika memori dapat hidup di luar tubuh, apakah tubuh masih menjadi syarat utama kemanusiaan? Atau justru tubuh hanya wadah sementara, sementara yang benar-benar menentukan “siapa kita” adalah kontinuitas ingatan?

Ketika manusia direduksi menjadi memori, identitas kehilangan sifat alaminya sebagai pengalaman hidup dan berubah menjadi arsip. Manusia tidak lagi dipahami sebagai proses, melainkan sebagai kumpulan data yang bisa diakses ulang. Dalam kerangka ini, kematian biologis bukan akhir mutlak, sementara kelangsungan hidup fisik tidak otomatis menjamin keberlanjutan diri.

Masalahnya bukan pada teknologi, tetapi pada absolutisasi memori.

Ketika memori dijadikan fondasi tunggal kemanusiaan, manusia menjadi sangat rentan terhadap kontrol. Siapa yang mengelola ingatan, mengelola identitas. Penghapusan, penyuntingan, atau penanaman memori bukan lagi tindakan netral, melainkan keputusan politis. Kekuasaan tidak perlu lagi memaksa tubuh; cukup mengatur apa yang boleh diingat dan dilupakan.

Dalam konteks ini, manusia berisiko kehilangan otonominya bukan karena ditindas secara fisik, tetapi karena diarahkan secara naratif. Ia tidak dipaksa untuk patuh, ia dibentuk untuk mengingat dengan cara tertentu. Masa lalu disusun ulang, trauma dikurasi, dan pengalaman dipaketkan agar selaras dengan sistem.

Ironisnya, ketika manusia didefinisikan sepenuhnya oleh memori, ia justru terjebak dalam masa lalu. Ia hidup sebagai pengulangan, bukan sebagai subjek yang memilih. Identitas tidak lagi dibangun melalui tindakan sadar, tetapi diwariskan melalui ingatan yang belum tentu dipahami.

Maka seperti cinta yang perlu diturunkan dari singgasana agar tidak membebani hidup, memori pun perlu ditempatkan secara lebih proporsional. Ia penting, tetapi tidak absolut. Ingatan memberi konteks, bukan komando. Ia membantu manusia memahami dirinya, tetapi tidak berhak menentukan seluruh orientasi hidupnya.

Dalam struktur yang lebih dewasa, manusia bukan sekadar “apa yang diingat”, melainkan “apa yang dilakukan dengan apa yang diingat”. Di titik ini, kemanusiaan tidak bertumpu pada tubuh semata, juga tidak terjebak pada memori semata, tetapi pada kesadaran reflektif untuk menata makna di tengah keterbatasan keduanya.

Mungkin di situlah batas terakhir manusia berada. Bukan pada ketebalan dagingnya. Bukan pula pada keragaman daya ingatannya. Melainkan pada kemampuannya menyadari bahwa tubuh bisa diganti, memori bisa dipindahkan, tetapi tanggung jawab atas hidup tidak pernah bisa diwakilkan.


Referensi:

1. Locke, J. (1690). An Essay Concerning Human Understanding. London: Thomas Bassett.

2. Dennett, D. C. (1991). Consciousness Explained. Boston: Little, Brown and Company.

3. Harari, Y. N. (2017). Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. Harper.


Posting Komentar

Related Posts

Apa Ada Literasi di Tangerang Selatan?
Baca selengkapnya