Kerentanan manusia terhadap rasa tidak aman hari ini bukan lahir dari ancaman fisik semata, melainkan dari sesuatu yang lebih lebih sistemik, yaitu runtuhnya ikatan sosial di tengah dunia yang terlalu sibuk menghitung efisiensi. Kita hidup dalam masyarakat yang mengklaim semakin maju, tetapi justru semakin miskin dalam relasi. Di balik grafik pertumbuhan dan jargon produktivitas, manusia pelan-pelan direduksi menjadi unit kerja, bukan makhluk relasional.
Orientasi ekonomi modern telah lama menggeser pusat kehidupan manusia. Kerja tidak lagi dipahami sebagai aktivitas bermakna yang menghubungkan manusia dengan sesamanya dan dengan dunia, melainkan sebagai ukuran nilai diri. Jam kerja menjadi tolok ukur moral. Mereka yang sibuk dianggap berguna, mereka yang melambat dicurigai beban sosial. Dalam logika ini, manusia diperlakukan seolah-olah mesin biologis yang bisa dipacu tanpa batas, selama output tetap tercapai.
Masalahnya, sejak lama produktivitas tidak lagi bergantung pada manusia. Mesin menggantikan tenaga fisik, teknologi menggantikan ketepatan, algoritma menggantikan keputusan, dan kini AI menggantikan kognisi. Namun alih-alih membebaskan manusia dari beban kerja, sistem justru mempertahankan tuntutan lama, dengan tetap bekerja lebih lama, lebih cepat, dan lebih fleksibel, seolah-olah manusia belum tergantikan.
Di sinilah absurditas muncul. Ketika kontribusi manusia semakin kecil secara teknis, tuntutan terhadap manusia justru semakin besar secara moral. Jika mesin lebih efisien, manusia diminta lebih “tahan banting”. Jika AI lebih akurat, manusia diminta lebih adaptif. Kerja tidak lagi soal kebutuhan sosial, tetapi soal pembuktian eksistensi, soal siapa yang tidak produktif dianggap tidak layak.
Kerentanan psikologis yang kita alami hari ini, kecemasan, kesepian, rasa tidak aman, bukan kegagalan individual. Ia adalah konsekuensi struktural dari masyarakat yang mengabaikan manusia sebagai makhluk relasional. Ikatan sosial melemah karena waktu, energi, dan perhatian dikuras habis oleh logika kerja. Komunitas tergantikan oleh jaringan profesional. Pertemanan digantikan kolaborasi. Solidaritas digantikan kompetisi.
Manusia kehilangan ruang untuk saling hadir tanpa fungsi ekonomi. Padahal justru dalam kehadiran non-produktif itulah rasa aman dibangun. Kita merasa terlindungi bukan karena efisiensi, tetapi karena keterhubungan. Namun sistem tidak memberi nilai pada hal-hal yang tidak bisa diukur, seperti empati, kebersamaan, waktu luang, dan perasaan dimiliki.
Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah manusia masih produktif, tetapi apakah manusia masih dianggap perlu. Ketika dunia hanya mengakui nilai guna, manusia yang tidak “optimal” menjadi surplus. Orang sakit, lanjut usia, pengangguran, atau mereka yang memilih hidup pelan, secara simbolik didorong ke pinggir. Seolah-olah hidup itu sendiri harus dibenarkan lewat kinerja.
Padahal manusia bukan alat produksi. Ia bukan mesin yang rusak ketika melambat. Ia adalah bagian dari kesatuan semesta yang lebih luas, makhluk yang hidup dalam relasi, bukan sekadar fungsi. Ketika sistem lupa akan hal ini, yang runtuh bukan hanya kesehatan mental individu, tetapi fondasi etis peradaban.
Krisis hari ini bukan krisis teknologi, melainkan krisis cara pandang. Bukan AI yang membuat manusia tak layak, tetapi sistem yang gagal mendefinisikan ulang makna hidup di luar produktivitas. Selama manusia terus dilihat sebagai alat, rasa aman akan selalu rapuh. Karena alat bisa diganti. Manusia seharusnya tidak.
Referensi:
1. Arendt, H. (1958). The Human Condition. University of Chicago Press.
2. Marx, K. (1867). Capital: A Critique of Political Economy, Volume I. Penguin Classics.
3. Han, B.-C. (2015). The Burnout Society. Stanford University Press.